Crayonbird
Menu
MatematikaOrang tua dan guruUsia 3–6

Mengajarkan Angka 1 sampai 20: Membangun Pemahaman Bilangan Anak 3–6 Tahun

Cara mengajarkan angka 1 sampai 20 agar anak paham jumlah, bukan sekadar hafal: prinsip berhitung, subitisasi, pasangan bilangan, angka belasan, dan permainan.

Tim Redaksi Crayonbird8 menit baca
Di halaman ini

Anak tiga tahun yang bisa menyanyikan "satu, dua, tiga... dua puluh!" memang mengesankan. Minta anak yang sama memberi Anda lima butir anggur, dan Anda mungkin menerima segenggam penuh dengan seruan riang "lima!" Keduanya sepenuhnya wajar. Menyebut urutan angka dan memahaminya adalah dua keterampilan yang berbeda, dan mengetahui bedanya mengubah cara Anda mengajar. Panduan ini membahas seperti apa pemahaman bilangan yang sesungguhnya dari 1 sampai 20, tahap-tahap yang dilalui anak, dan permainan yang membangunnya dalam beberapa menit sehari.

Menyebut angka tidak sama dengan menghitung

Menyebut kata-kata bilangan secara berurutan lebih mirip menyanyikan lagu daripada mengerjakan matematika. Itu berguna, karena anak memang butuh kata-katanya, tetapi itu hanya satu dari beberapa gagasan yang harus menyatu sebelum menghitung punya arti.

Para peneliti matematika anak usia dini sering menggambarkan sejumlah prinsip berhitung. Dalam bahasa sederhana:

  1. Urutan tetap. Kata bilangan selalu datang dengan urutan yang sama: satu, dua, tiga, tidak pernah satu, tiga, dua.
  2. Satu benda, satu kata. Setiap benda mendapat tepat satu kata bilangan. Tidak ada yang terlewat, tidak ada boneka yang dihitung dua kali.
  3. Angka terakhir adalah jawabannya. Saat Anda menghitung "satu, dua, tiga, empat", kata terakhir menunjukkan ada berapa. Ini disebut kardinalitas, dan inilah yang paling penting.
  4. Apa saja bisa dihitung. Mainan, tepukan, lompatan, bunyi, bahkan gagasan.
  5. Urutan menghitung tidak mengubah jumlah. Hitung mobil-mobilan dari kiri ke kanan atau dari kanan ke kiri; jumlahnya tetap lima.

Ini tes singkat untuk kardinalitas. Hitung empat balok bersama-sama, lalu tanyakan, "Jadi baloknya ada berapa?" Anak yang sudah paham langsung menjawab "empat". Anak yang belum sering menghitung semuanya lagi dari awal. Itu bukan kesalahan yang perlu dibetulkan; itu informasi berguna tentang posisinya saat ini.

Melihat angka kecil tanpa menghitung

Lihat tiga titik di dadu, dan Anda tidak menghitungnya. Anda langsung tahu. Pengenalan seketika itu disebut subitisasi, dan kebanyakan orang bisa melakukannya dengan andal sampai sekitar empat benda. Ini fondasi yang kuat, karena membuat anak melihat bilangan sebagai satu kesatuan, bukan rangkaian kata.

Cara membangunnya:

  • Dadu dan kartu domino. Tunjukkan satu sisi dadu sedetik lalu tanya "ada berapa?" Mulai dengan satu sampai tiga titik.
  • Pola jari. Tunjukkan tiga jari sekilas lalu sembunyikan. Bisakah anak menunjukkan jumlah yang sama? Lalu coba "tunjukkan empat dengan cara lain" (dua di tiap tangan, tiga dan satu).
  • Kartu lihat sekilas. Gambar titik-titik di kartu dengan susunan berbeda. Tiga titik berjajar, tiga titik membentuk segitiga. Jumlah sama, tampilan berbeda.
  • Temukan di sekitar. Empat roda di mobil, dua mata, tiga kaki di bangku kecil.

Begitu angka kecil bisa "dilihat", angka yang lebih besar bisa dibangun darinya. Lima tampak seperti "tiga dan dua"; enam tampak seperti "tiga dan tiga". Ini disebut subitisasi konseptual, dan inilah jembatan menuju penjumlahan.

  • kepik
  • lebah
  • kupu-kupu
  • semut
Hitung bintik, sayap, dan kakinya: angka kecil yang bisa dicek dengan mata.

Lima dan sepuluh: dua jangkar

Sistem bilangan kita dibangun di atas puluhan, dan tangan kita terdiri dari lima jari. Memakai dua jangkar itu membuat angka sampai 20 jauh lebih mudah dipahami.

Bingkai lima. Gambar satu baris berisi lima kotak. Masukkan kancing dari kiri. Tiga kancing, dua kotak kosong. "Berapa lagi supaya jadi lima?" Anak cepat mulai melihat bahwa 3 dan 2 menjadi 5 tanpa menghitung.

Bingkai sepuluh. Dua baris berisi lima kotak. Isi baris atas dulu, lalu baris bawah. Tujuh adalah "satu baris penuh berisi lima dan dua lagi". Sembilan adalah "kurang satu dari sepuluh". Gambaran-gambaran ini menjadi bayangan di kepala yang dibawa anak selama bertahun-tahun.

Jari. Sepuluh jari adalah bingkai sepuluh di ujung lengan. Ajak anak menunjukkan angka tanpa menghitung jari satu per satu: "tunjukkan lima" (satu tangan penuh), "tunjukkan tujuh" (satu tangan penuh dan dua). Memakai jari bukan curang; di usia ini jari adalah alat matematika yang sangat baik.

Pasangan bilangan tanpa lembar kerja

Pasangan bilangan hanyalah dua bilangan yang bersama-sama membentuk bilangan lain. Untuk 5: 0 dan 5, 1 dan 4, 2 dan 3. Untuk 10: 1 dan 9, 2 dan 8, 3 dan 7, 4 dan 6, 5 dan 5. Hafal pasangan-pasangan ini membuat penjumlahan, pengurangan, dan kelak hitung mental jauh lebih mudah.

Coba ini dengan lima kancing dan sebuah gelas:

"Ibu punya lima kancing. Ibu mau sembunyikan beberapa di bawah gelas... Lihat, tinggal dua di luar. Berapa yang bersembunyi?"

Anak mungkin menghitung dengan jari, menebak, atau mengangkat gelasnya. Semuanya boleh. Ulangi dengan jumlah tersembunyi yang berbeda. Dalam beberapa minggu, jawabannya mulai muncul seketika. Lalu mainkan permainan yang sama dengan sepuluh.

Cara lain melatih pasangan bilangan:

  • Kocok dan tumpahkan. Masukkan lima keping dua warna (atau koin, sisi gambar dan sisi angka) ke dalam gelas, kocok, lalu tumpahkan. "Tiga merah dan dua kuning. Tiga dan dua jadi lima."
  • Bowling sepuluh pin. Sepuluh botol plastik. Jatuhkan beberapa: berapa yang masih berdiri? Berapa yang jatuh? Kalau digabung, selalu sepuluh.
  • Piring camilan. "Di sisi ini ada enam kismis. Berapa yang harus ditaruh di sisi itu supaya jadi sepuluh?"

Di Inggris, tujuan pembelajaran usia dini mengharapkan anak di akhir kelas Reception hafal pasangan bilangan sampai 5 tanpa menghitung, ditambah sebagian pasangan bilangan 10, dan kurikulum Year 1 melanjutkan ke pasangan bilangan sampai 20. Di negara lain waktunya berbeda, tetapi gagasan ini muncul di hampir setiap kurikulum matematika awal, termasuk di TK dan kelas awal SD.

Lembar berhitung dan angka untuk usia 3–6

Lihat lebih banyak di perpustakaan

Angka belasan lebih rumit daripada kelihatannya

Anak sering lancar sampai sepuluh lalu mulai goyah. Bukan karena angkanya lebih besar, melainkan karena kata-katanya tidak terlalu membantu.

Kabar baiknya, bahasa Indonesia jauh lebih teratur daripada bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris, eleven dan twelve sama sekali tidak memberi petunjuk bahwa artinya "sepuluh dan satu" dan "sepuluh dan dua". Dalam bahasa Indonesia, semua belasan berpola sama: se-belas, dua belas, tiga belas, sampai sembilan belas. Lalu dua puluh berarti "dua puluhan".

Namun tetap ada dua jebakan:

  • Kita mengucapkan satuannya dulu (empat belas), padahal menulis puluhannya dulu: 1 lalu 4. Pantas saja sebagian anak menulis 41.
  • Empat belas dan empat puluh sama-sama diawali "empat", sehingga mudah tertukar, apalagi bagi telinga anak kecil.

Beberapa bahasa membuatnya lebih mudah lagi. Dalam bahasa Mandarin, Jepang, dan Korea, 14 diucapkan "sepuluh-empat". Anda bisa meminjam gagasan itu:

"Empat belas itu sepuluh dan empat. Ayo kita buat: satu bingkai sepuluh yang penuh, dan empat lagi."

Bangun setiap angka belasan dengan satu bingkai sepuluh yang penuh (atau seikat sepuluh sedotan yang diikat karet gelang) dan beberapa yang lepas. Sebutkan kedua namanya: "sepuluh dan enam, enam belas". Tak lama, anak melihat bahwa setiap belasan adalah "sepuluh dan beberapa lagi", dan 20 adalah "dua puluhan".

Permainan untuk angka 1 sampai 20

Singkat, melibatkan gerak, dan diulang: itulah rumusnya. Pilih satu atau dua setiap hari.

  1. Berhitung di tangga. Hitung anak tangga sambil naik, lalu hitung mundur dari atas sambil turun. Menghitung mundur adalah keterampilan tersendiri, dan tangga membuatnya alami.
  2. Lompat garis bilangan. Gambar garis berisi angka 0 sampai 20 dengan kapur di lantai. "Mulai dari 8. Lompat maju 2. Sekarang kamu di mana?"
  3. Kantong misteri. Masukkan sampai 10 benda kecil ke kantong. Anak merabanya dan menebak ada berapa, lalu menghitung untuk mengecek.
  4. Lebih banyak atau lebih sedikit. Dua genggam makaroni. Mana yang lebih banyak? Taksir dulu, lalu hitung. Menaksir membangun rasa tentang besaran.
  5. Berburu angka. Temukan angka di pintu rumah, bus, label harga, dan jam. Tanyakan "angka berikutnya apa?"
  6. Main warung. Beri harga mainan Rp100 sampai Rp1.000 dan bayar dengan uang logam sungguhan.
  7. Balapan ke 20. Lempar dadu, tambahkan sejumlah kancing ke bingkai dua puluh (dua bingkai sepuluh). Yang pertama mengisi keduanya menang.

Buku bergambar yang bermain-main dengan berhitung adalah tambahan yang manis sebelum tidur. Coba Di Mana Angka Lima? dan berhentilah untuk menghitung bebek di setiap halaman.

Gambar garis untuk diwarnai: Gurita

Halaman mewarnai

Gurita

Delapan tentakel untuk dihitung, lalu warnai masing-masing dengan warna berbeda.

Menulis angka adalah keterampilan menulis tangan, bukan keterampilan matematika, dan bisa tertinggal jauh di belakang pemahaman. Anak yang belum bisa menulis 8 mungkin sudah sangat paham apa artinya delapan.

Saat Anda berlatih:

  • Tunjukkan titik awalnya. Titik hijau sebagai titik mulai memperbaiki sebagian besar masalah pembentukan angka.
  • Pakai kalimat berirama. "Garis lurus ke kanan, lalu meluncur miring ke bawah: jadilah angka tujuh!" Banyak keluarga punya versinya sendiri.
  • Maklumi angka terbalik. Angka 2, 3, 5, 7 dan 9 yang terbalik sangat umum sampai sekitar usia tujuh tahun. Contohkan bentuk yang benar dengan tenang, lalu lanjutkan.

Lembar menebalkan angka kami memberi latihan terpandu dengan titik awal dan tanda panah.

Kesalahan umum (kesalahan kita, bukan mereka)

  • Terlalu tinggi terlalu cepat. Mantapkan pemahaman sampai 5, lalu sampai 10, lalu sampai 20. Tidak ada hadiah untuk berhitung sampai 100 di usia empat tahun.
  • Hanya memakai lembar kerja. Kertas berguna nanti. Benda nyata selalu didahulukan.
  • Membetulkan setiap hitungan. Kalau anak menghitung enam balok sebagai tujuh, katakan "Yuk kita hitung sama-sama" alih-alih "Bukan, salah."
  • Melupakan nol. "Kuenya tinggal berapa?" "Habis!" adalah obrolan matematika yang bagus. Nol juga bilangan.

Untuk lebih banyak cara menyelipkan angka dalam keseharian, lihat ide kami tentang matematika sehari-hari di rumah, dan saat anak siap membandingkan bilangan yang lebih besar, coba lembar kerja membandingkan bilangan kami.

Buku aktivitasUsia 3–5

Buku Peternakan: Berhitung sampai 10

Hitung hewan ternak, tebalkan angka 0–10, dan bandingkan kelompok.

Lihat isinya

Malam ini, ambil lima kancing dan satu gelas, lalu mainkan permainan bersembunyi tiga kali. Hanya dua menit, dan permainan itu mengajarkan lebih banyak tentang arti lima yang sebenarnya daripada menyanyikan angka berapa kali pun.

Cetak kegiatan pemahaman bilangan

Pertanyaan umum

Anak saya bisa menyebut angka sampai 20 tapi belum bisa menghitung benda. Apakah itu wajar?

Sangat wajar. Menyebut urutan angka adalah keterampilan mengingat, seperti menghafal lagu. Menghitung benda butuh kemampuan memasangkan satu benda dengan satu kata bilangan dan pemahaman bahwa angka terakhir menunjukkan jumlahnya. Latih dengan kelompok kecil benda nyata, sampai lima dulu.

Apa itu subitisasi?

Kemampuan langsung melihat berapa jumlah benda dalam kelompok kecil tanpa menghitung, misalnya langsung tahu ada tiga titik di dadu. Kebanyakan orang bisa melakukannya dengan andal sampai sekitar empat benda.

Kapan anak sebaiknya belajar pasangan bilangan?

Pasangan bilangan yang berjumlah lima adalah awal yang baik sekitar usia lima tahun, lalu yang berjumlah sepuluh. Di Inggris, misalnya, anak di akhir kelas Reception diharapkan hafal pasangan bilangan sampai 5 dan sebagian pasangan bilangan 10, lalu memakai pasangan bilangan sampai 20 di Year 1.

Perlukah khawatir kalau anak menulis angka terbalik?

Tidak. Angka terbalik seperti 3 atau 7 yang menghadap ke arah salah sangat umum sampai sekitar usia tujuh tahun. Contohkan bentuk yang benar, beri titik awal, dan jangan dibesar-besarkan.

Lembar kerja di artikel ini

Buku aktivitas

Buku Peternakan: Berhitung sampai 10

Bagikan artikel ini

Tim Redaksi Crayonbird

Penulis, ilustrator, dan pendidik

Kami tim kecil yang menulis, menggambar, dan menguji kegiatan Crayonbird. Kami mencoba setiap ide dengan lembar kerja kami sendiri, memberi saran praktis dan jujur — termasuk soal yang tidak berhasil — dan merujuk sumber resmi bila penting. Tidak ada konten bersponsor di blog ini.